Dinamika sosial komunikasi dan integritas sejarah Twin Tower UINSA

 

Dinamika sosial komunikasi dan integritas sejarah Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya.

April 30, 2024

 




 

Siapa yang tidak mengenal gedung Twin Tower UINSA? Yaitu merupakan gedung yang dibangun kembar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) yang merupakan maskot atau ciri khas kampus A tepatnya terletak di JL Ahmad Yani No. 117 Surabaya. Gedung ini merupakan gedung yang difungsikan sebagai Gedung rektorat yang memiliki 9 lantai ditambah lantai atap. Twin Tower juga memiliki sejarah seperti bangunan pada umumnya, berdirinya Twin Towers UINSA adalah atas dasar keinginan untuk mengintegrasikan pendidikan, mengakulturasikan budaya Sunan Ampel juga nilai-nilai Islami, menjadi syarat utama alih status dari yang awalnya IAIN menjadi UIN dengan mengandung nilai-nilai di dalamnya, seperti akulturasi budaya, religi, pendidikan, sains, integrasi keilmuan, serta keseimbangan antara ilmu umum dan ilmu agama.

 

 Bangunan Twin Tower UINSA jelas memiliki desain yang menarik dan tentunya dari desain tersebut juga memiliki integrasi dalam dunia Pendidikan serta secara umum. Bangunan yang terdiri dari 2 menara kembar yang menjulang tinggi 9 lantai dengan bangunan penghubung ditengahnya itu menggambarkan keilmuan keislaman multidisipliner di UINSA yang membangun struktur keilmuan dimana antara ilmu keagamaan dan ilmu sosial atau humaniora serta ilmu alam berkembang secara memadai yang wajar. Semua keilmuan tersebut memiliki kewibawaan yang sama, sehingga antara satu dengan lainnya tidak saling nerasa superior atau inferior. Ilmu keislaman diibaratkan sebuah menara yang satu sedangkan ilmu umum diibaratkan menara yang satunya lagi, kedua menara tersebut bertemu dan saling melengkapi di bangunan penghubung atau jembatan yang berada ditengah antara kedua menara tersebut. Dengan demikian, tidak perlu mengkaji secara khusus keilmuan umum dengan pendekatan agama untuk dicari relevansinya dengan ajaran agama, tetapi cukup mengkomunikasikan diantara keduanya. Hal ini didasarkan pada kondisi keilmuan umum yang sudah stabil selain itu semua ilmu hakikatnya netral dan Islami.

 

 Istilah Twin Towers berasal dari bahasa Inggris, yaitu tower memiliki arti menara atau bangunan yang menjulang tinggi. Namun dalam konteks diskursus keilmuan, tower biasanya  diartikan sebagai intelektual menara gading. Istilah tersebut ditujukan untuk cendekiawan    yang metode berfikirnya selalu melangit. Sedangkan Integrasi Twin Towers UIN Sunan  Ampel    Surabaya memiliki arti yaitu menunjukkan kehebatan perjalanan hidup manusia  yang mampu menyatukan entitas  yang  berbeda,  kemudian disimpulkan dalam  sebuah entitas  yang  bersifat  universal. Dengan demikian paradigma Integrasi Twin Towers tidak difungsikan untuk  mengislamkan  pengetahuan, melainkan untuk menciptakan nalar keilmuan yang mewujudkan hubungan  antara satu ilmu dengan ilmu lainnya. Mengapa harus nalar? Karena bagi UIN Sunan Ampel Surabaya islamisasi nalar lebih menguntungkan dari pada islamisasi ilmu pengetahuan.

 

Selain sebagai bangunan ikonik, Twin Tower UINSA juga menjadi tempat terjadinya komunikasi interpersonal dan pembentukan komunitas di dalamnya yang mana para mahasiswa, dosen, dan para staf administrasi saling berinteraksi dan berkomunikasi untuk berbagai keperluan akademik maupun non-akademik. Dalam konteks pendidikan, komunikasi interpersonal ini juga memainkan peran penting dalam proses pembelajaran, kolaborasi, dan pembentukan jaringan sosial. Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga pusat komunikasi pendidikan yang kompleks. Dalam konteks sosiologi komunikasi pendidikan, bangunan ini merepresentasikan dinamika sosial, identitas institusi, interaksi interpersonal, pengaruh teknologi, dan dialog multikultural yang menjadi bagian integral dari proses pendidikan dan suatu pembelajaran.

 

 

Oleh: Azha Putri A.

Komentar

Postingan populer dari blog ini